• PONDOK PESANTREN NURUL HIKMAH WADAH NON-FORMAL UNTUK MENGHAFAL AL-QUR'AN DAN KAJIAN ILMU AGAMA ISLAM DI ATAS MADZHAB AQIDAH AHLUSSUNNAH WAL JAMA'AH ASY'ARIYYAH MATURIDIYYAH FIQIH SYAFI'IYYAH DAN TASAWUF RIFAIYYAH
Wednesday, 21 February 2024

Jawaban Pertanyaan “Di Mana Allah?”

Bagikan

Rp25,000.00

Ada dua metode untuk memaknai ayat-ayat mutasyabihat yang keduanya sama-sama benar: (Pertama): Metode Salaf. Mereka adalah orang-orang yang hidup pada tiga abad hijriyah pertama. Yakni kebanyakan dari mereka mentakwil ayat-ayat mutasyabihat secara global (takwil ijmali), yaitu dengan mengimaninya serta meyakini bahwa maknanya bukanlah sifat-sifat jism (sesuatu yang memiliki ukuran dan dimensi), tetapi memiliki makna yang layak bagi keagungan dan kemahasucian Allah tanpa menentukan apa makna tersebut.

(Kedua): Metode Khalaf. Yang disebut dengan Takwil Tafshili. Mereka mentakwil ayat-ayat mutasyabihat secara terperinci dengan menentukan makna-maknanya sesuai dengan penggunaan kata tersebut dalam bahasa Arab. Sebagaimana para Ulama Salaf, para Ulama Khalaf tidak memahami ayat-ayat tersebut sesuai dengan zahirnya. Dalam memahami hadits al-Jariyah, kaum Musyabbihhah –(variannya di zaman sekarang adalah golongan Wahhabi)–, memaknainya dalam makna zahirnya. Mereka meyakini Allah di atas langit, atau sebagian mereka mengatakan bertempat di langit dengan dasar pemahaman keliru terhadap hadits ini. Musibah terbesar kaum Musyabbihah sesungguhnya adalah karena mereka sangat anti terhadap takwil. Bahkan berkembang di kalangan mereka semacam kaedah –yang mereka buat sendiri– mengatakan al-Muawwil Muath-thil; (seorang yang melakukan takwil maka ia menginkari teks-teks syariat).

SKU: HBPH Categories: , , Tags: , ,

Description

Ada dua metode untuk memaknai ayat-ayat mutasyabihat yang keduanya sama-sama benar: (Pertama): Metode Salaf. Mereka adalah orang-orang yang hidup pada tiga abad hijriyah pertama. Yakni kebanyakan dari mereka mentakwil ayat-ayat mutasyabihat secara global (takwil ijmali), yaitu dengan mengimaninya serta meyakini bahwa maknanya bukanlah sifat-sifat jism (sesuatu yang memiliki ukuran dan dimensi), tetapi memiliki makna yang layak bagi keagungan dan kemahasucian Allah tanpa menentukan apa makna tersebut.

(Kedua): Metode Khalaf. Yang disebut dengan Takwil Tafshili. Mereka mentakwil ayat-ayat mutasyabihat secara terperinci dengan menentukan makna-maknanya sesuai dengan penggunaan kata tersebut dalam bahasa Arab. Sebagaimana para Ulama Salaf, para Ulama Khalaf tidak memahami ayat-ayat tersebut sesuai dengan zahirnya. Dalam memahami hadits al-Jariyah, kaum Musyabbihhah –(variannya di zaman sekarang adalah golongan Wahhabi)–, memaknainya dalam makna zahirnya. Mereka meyakini Allah di atas langit, atau sebagian mereka mengatakan bertempat di langit dengan dasar pemahaman keliru terhadap hadits ini. Musibah terbesar kaum Musyabbihah sesungguhnya adalah karena mereka sangat anti terhadap takwil. Bahkan berkembang di kalangan mereka semacam kaedah –yang mereka buat sendiri– mengatakan al-Muawwil Muath-thil; (seorang yang melakukan takwil maka ia menginkari teks-teks syariat).

Additional information

Dimensions 1 × 14 × 21 cm
SebelumnyaMembongkar Aqidah TasybihSesudahnyaMemahami Bid'ah Komprehensif
No Comments

Tulis komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Chat Admin
1
💬 Butuh info? Chat Admin aja!
Assalamu'alaikum Pondok Pesantren Nurul Hikmah!